KISAH MENGENAI ILMU ASMA REMUK TANDING
Almarhum Kiyai Hasan Bisri mendapatkan ijazah asma ini secara rasmi dan secara langsung dari gurunya yang bernama Kiyai Haji Muhtadi Ajiz asal Cirebon.
Asma ini merupakan salah satu ilmu tingkat tinggi yang dimiliki oleh Putra Raja Pajajaran Prabu Siliwangi yang bernama Mbah Kuwu Sangkan/Pangeran Cakra Buana/Raden Walang Sungsang Pendiri Kota Cirebon yang juga merupakan Pakcik kepada Syeikh Syarif Hidayatulloh (Sunan Gunung Jati) sekaligus leluhurnya Pangeran Maulana Muhammad Ratu Banten.
Asma Remuk Tanding ini telah diturunkan kepada keturunan beliau hingga sampai kepada Sultan Hasanudin Banten iaitu datuk kepada Pangeran Maulana Muhammad Ratu Banten.
Dikisahkan pada suatu hari Syeikh Siti jenar/Syeikh Lemah Abang sedang membawa kayu jati yang besar untuk di jadikan tiang di masjid Cirebon. Ketika dalam perjalanan membawa kayu jati tersebut, beliau telah dihadang oleh seekor harimau putih yang tinggi dan besarnya seperti rumah.
Harimau ini ternyata adalah jelmaan dari Mbah Kuwu Sangkan Cirebon/Pangeran Cakra Buana/Raden Walang Sungsang. Lalu terjadilah pertempuran yang sangat sengit. Mereka saling menggunakan kesaktian masing-masing sehinggakan pohon-pohon tumbang, gunung hancur, hawa udara menjadi panas dan suara Harimau Putih bergema sangat menakutkan.
Akhirnya, Syeikh Siti Jenar/Syeikh Lemah Abang menyerah kalah tatkala sang Harimau mengeluarkan ilmu "ASMA REMUK TANDING" ini, dan kayu jati yg dibawanya turut dirampas.
Menurut Mbah Kuwu Sangkan/Pangeran Cakra Buana/Raden Walang Sungsang kalau kayu jati yang dibawa Syeikh Siti Jenar/Syeikh Lemah Abang sampai ke Cirebon, maka ilmu kewalian wajib diajarkan kepada orang-orang awam.
